Sejarah Berdirinya Warkop (Bagian II)

Diposting pada

23 September 1973 Awal Berdirinya Warkop

Sebagai grup lawak, apa yang dilakukan trio ini sepanjang kariernya memang jauh dari kesan lucu dan santai. Materi-materi lawak yang membuat penonton gergeran kala mereka beraksi di corong radio, panggung, bioskop, dan televisi semua dipersiapkan secara matang dan terencana.Termasuk tawaran tampil dalam sebuah acara atau membintangi film. Setiap langkah yang akan diambil melalui pembahasan serius nan cermat.

Melalui tulisan berjudul “Warung Happening Arts Kita” dalam buku Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main (penerbit Kepustakaan Kompas Gramedia, Aquarius, dan Warkop DKI, 2010), Budiarto Shambazy menyebut Warkop DKI telah mewariskan sebuah model pengelolaan bisnis lawak.

“Jika dibandingkan dengan Srimulat yang sudah lebih dahulu mapan, misalnya, model Warkop lebih modern. Mengapa? Sebab bahan-bahan lawakan Warkop lebih beragam; kehidupan anak muda, musik, politik, seks, gender, ras, dan sebagainya. Sedangkan Srimulat lebih terfokus pada melucu gaya Jawa,” papar penulis yang sempat mengampu kolom “Politika” di harian Kompas itu.

Profesionalisme telah terpancang sejak awal kelompok ini berdiri pada 23 September 1973. Sikap tersebut membuat nama Warkop DKI tetap berkibar dan terus terkenang di hati para penggemarnya yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat dan rentang usia.

Perjalanan selama 43 tahun bagi sebuah kelompok tentu penuh dinamika. Menyisakan banyak cerita. Berlimpah kesenangan, tapi tak sedikit juga berisi konflik. Salah satu perseteruan hebat yang hampir saja menamatkan perjalanan Warkop DKI terjadi kala Dono dan Kasino terlibat “perang dingin”.

Uniknya aksi yang berlarut hingga tiga tahun lamanya tersebut tak terendus orang lain, bahkan oleh pihak keluarga. Indro adalah satu-satunya yang mengetahui hal tersebut. Profesionalitas lagi-lagi jadi kunci.

Dono dan Kasino memang tidak menunjukkan gelagat aneh selama proses perang dingin berlangsung. Mereka tetap kompak saat sedang bekerja. Beda cerita jika hanya bertiga.Meski duduk berdampingan, mereka selalu memanfaatkan Indro yang kebetulan paling muda sebagai juru penyampai pesan.

Awal Mula Dono Warkop konflik dengan Kasino Warkop

Saat tampil dalam acara bincang-bincang “Hitam Putih” yang dipandu Deddy Corbuzier, Indro menceritakan ihwal perseteruan tersebut. Perbedaan sikap adalah penyebab dua rekannya itu sempat berseteru.

“Mas Dono itu seniman banget.Selalu ingin berkarya, tidak ingin dicegah. Sementara Mas Kasino pengusaha betul. Punya strategi dan taktik. Perbedaan sifat itu yang jadi awal konflik,” ungkap anak semata wayang pasangan Moehammad Oemargatab dan Soeselia Kartanegara itu.

Dono (kelahiran Solo, 30 September 1950) yang kala itu ingin menyutradarai teledrama Balada Paijo mendapat tentangan dari Kasino. Sebagai pengambil keputusan dan otak jualan dalam grup, Kasino menganggap niat Dono menyalahi aturan main strategi pemasaran Warkop DKI.

Karena masing-masing teguh pada pendirian, akhirnya persoalan tersebut mereka selesaikan dengan cara khas Jawa yaitu jothakan alias saling mendiamkan. Kurun perang dingin tersebut dapat diendus seturut keterlibatan Kasino membantu mempersiapkan film perdana Bagito Grup bertajuk Bayar Tapi Nyicil (1988).

Dono tak mau kalah, ia menjadi produser merangkap penulis naskah film Peluk Daku dan Lepaskan (1991) yang dibintangi Meriam Bellina, Ria Irawan, Gusti Randa, dan Hari Mukti.

Merasa capek terus-menerus dijadikan jembatan dalam situasi yang tidak kondusif tadi, Indro melakukan protes. Bentuknya dengan cara mengambil tawaran jadi pemandu acara seorang diri. Tertinggal Dono dan Kasino yang masih bermusuhan kebingungan karena kehilangan sosok penengah. Maksud hati agar kedua sahabat yang telah dianggapnya sebagai kakak itu sadar diri dan menyelesaikan masalah sendiri.

Ternyata itu tak terjadi. Jadilah kemudian Indro berinisiatif mengumpulkan Dono dan Kasino untuk membahas kelanjutan karier mereka sebagai sebuah grup yang telah jadi jenama. Tempatnya yang dipilih adalah Warung Sroto Sokaraja di Pasar Seni. Mereka memang sering nongkrong di tempat yang berada dalam lingkungan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara.

“Begini deh. Gue capek juga gini terus, kayak orang munafik. Kalau terus-terusan begini, lebih baik kita bubar saja,” ujar Indro menirukan ucapannya sendiri kala itu dalam kesempatan bincang-bincang bersama Marissa Anita di acara “Satu Indonesia”.

Perkataan menohok Indro membuat Dono dan Kasino tersadar bahwa jauh di lubuk hati mereka ternyata saling membutuhkan. Perang dingin pun diselesaikan dengan acara saling berpelukan dan menangis sesunggukan.

Bermula dari Obrolan Seram

Ihwal terbentuknya kelompok ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial politik yang terjadi pada medio 1970-an. Sebutlah misalnya Peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari 1974), proyek mercusuar pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan diberlakukannya Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK).

Maklum, personel awal kelompok yang belum bernama ini merupakan mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Rudy Badil (sekarang berusia 66) mengambil jurusan antropologi di Fakultas Sastra (kini berganti nama jadi Fakultas Ilmu Budaya), sementara Kasino Hadiwibowo (1950–1997) dan Nanu Mulyono (1952–1983) tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Sebagai mahasiswa, selain tercatat sebagai anggota pecinta alam yang hobi naik gunung, mereka aktif pula berdemonstrasi mengkritik kebijakan pemerintah Orde Baru (Orba). Agar terhindar dari masalah, penyampaian kritik dibungkus dengan humor. Caranya dengan bercuap-cuap di depan microphone siaran radio.

Adalah Temmy Lesanpura, Kepala Program Radio Prambors kala itu, yang mengajak Rudy, Kasino, dan Nanu untuk mengisi slot siaran di radio tempatnya bekerja. Temmy yang mahasiswa Fakultas Ekonomi UI terpesona menyaksikan duet Kasino dan Nanu dalam acara di Perkampungan Mahasiswa Universitas Indonesia di Cibubur, Jakarta Timur.

Keduanya tampil kocak menghibur para mahasiswa dengan cerita lucu menjurus jorok, plus memparodikan beberapa lagu. Tujuan diadakannya acara tersebut karena sebelumnya FISIP dan FE UI sukses mengikuti anjangsana ke markas besar Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) di Magelang, Jawa Tengah.

“Dil, koordinir anak-anak itu untuk muncul di Radio Prambors, ya. Mereka potensial dan sudah nyambung kok. Entar gue bilangin sama Onny Tjondro. Atur sama Mohammad Noer Arumbinang, juga Toto R. Tinggartomanu dan Djodi Wuryantoro ya, mereka juga penyiar Prambors. Gue tunggu ya,” ujar Temmy kepada Rudy Badil soal ajakan pertama menyiar.

Singkat kata, berangkatlah Rudy, Kasino, dan Nanu menuju Prambors yang studionya mangkal di Jalan Borobudur No. 4, Menteng, Jakarta Pusat, persis di samping rumah Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta saat itu.

Dalam ruang siaran berbentuk akuarium yang sanggup memuat delapan orang tersebut, duduklah Rudy, Kasino, dan Nanu. Sesuai nama acaranya “Obrolan Malam Jumat” alias “Omamat”, mereka mengobral cerita seram yang diusahakan lucu saban pukul 21.00 hingga 23.00 WIB. Topiknya diambil dari pengalaman selama masa prabakti mahasiswa (mapram), atau kisah obrolan ngawur sambil menyanyikan lagu-lagu khas gubahan yang rada-rada cabul dan menyentil.

Materi siaran demikian masih mereka berlakukan karena pendengar Prambors yang kala itu masih beralamat di frekuensi AM 666 Khz sangat terbatas. Hanya di kalangan mahasiswa aktivis dan pecinta alam UI.

Seiring perjalanan waktu, kepopuleran acara itu semakin merebak tidak hanya di kalangan mahasiswa kampus UI.

Temmy mengarahkan agar materi siaran ketiganya lebih terfokus. “Cerita seram, cerita setan, oke-oke saja. Tapi ingat lho, bahan harus selalu segar, selalu ada stok. Kisah-kisah lucu kalian kembangkan menjadi materi bercanda otak,” Temmy mengingatkan.

Obrolan Malam Jumat menjadi Warung Kopi

Mulai tahun 1974 program “Omamat” lantas berganti menjadi “Warung Kopi” karena tema cerita semakin melebar tidak hanya sebatas cerita seram.

Nama warung kopi diusulkan oleh Rudy dan mendapat persetujuan karena dianggap sebagai tempat paling demokratis di negeri ini. Mau bicara apa pun bebas. Maklum saja, peraturan kala itu memang sangat ketat, terutama soal kebebasan berekspresi. Segala macam bentuk ekspresi yang mengkritik kebijakan pemerintah Orde Baru yang dikuasai Soeharto alamat bakal dibungkam.

Mungkin satu-satunya yang tidak dilarang di negeri ini kala itu hanyalah tertawa. Karenanya kemudian kelompok ini mengusung kalimat satire “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang” dalam setiap film.

Berselang setahun, Wahyu Sardono yang anak sosiologi FISIP UI ikut meramaikan Obrolan Malam Jumat. Perkenalan dengan pria yang akrab disapa Dono itu terjadi di acara Pelatihan Nasional Lingkungan Hidup bagi Pemuda Indonesia di Puncak Pass Hotel.

Formasi semakin komplet dengan bergabungnya Indrojoyo Kusumonegoro pada 1976. Alasan perekrutan Indro karena sosoknya yang memang suka melucu dan piawai juga bermain alat musik, khususnya gitar dan suling.

Berbeda dengan empat personel lain yang bukan berasal dari lingkungan Prambors (Jalan Prambanan, Mendut, Borobudur, dan sekitarnya), Indro adalah akamsi alias anak kampung situ. Pasalnya rumah Indro dan kampusnya, Universitas Pancasila, berdekatan dengan studio Radio Prambors.

Pun demikian, Indro tetap memalui proses audisi. “Yang gue ingat, waktu itu gue disuruh menyanyikan lagu ‘Melati’ dari Grace Simon, tapi harus dengan langgam Jawa. Edan kan? Kurang kerjaan banget tuh si Kasino, he-he-he,”kenang Indro.

Berlima mereka mengocok perut para pendengar dengan memainkan berbagai peran. Rudy sebagai Bang Holil (pemilik warkop) dan Mister James (turis bule); Nanu menjadi Acing (anak Bang Holil) yang tak jarang berperan sebagai Tagor (kernet bus angkutan umum), atau Tukinah (waria yang pandai mendendangkan “Terajana”); Dono kebagian porsi Mas Slamet (pria asal Solo yang senang berfalsafah, tapi kerap salah kaprah); Indro memerankan Ubai (keponakan Bang Holil dari Purbalingga), Poltak asal Medan, dan Bruddin; sementara Kasino yang lidahnya paling luwes menirukan berbagai dialekkebagian banyak peran, mulai dari Acing (anak Bang Dulloh), Koh Acong (tetangga warung), Mas Bei, Uda, Bli Ketut, dan Kang Jaja.

Dalam setiap siaran, Rudy sebagai mahasiswa jurusan antropologi banyak mengambil materi lawakan dari cerita-cerita folklor. Saat itu folklor masih jadi mata pelajaran baru dalam lingkungan mahasiswa antro yang dibawa oleh Prof. Dr. James Danandjaya, dosen Rudy.

Masing-masing juga kerap membawa contekan materi lawak ke studio bermodal kertas Xerox (sebutan untuk fotokopian saat itu). Nanu misalnya. Pengalaman tinggal di Jalan Setia Budi, Jakarta Selatan, yang bertetangga dengan Kampung Batak, membuatnya kerap membawa bahan bercanda halak hita (senda garau ala Batak).

Semakin populernya acara Warkop membuat undangan tampil mengisi acara mulai berdatangan. Jika waktunya cocok, kelompok ini berusaha tampil lengkap. Modalnya hanya gitar yang dipetik oleh Nanu. Mereka juga meminta disediakan pengeras suara.

Pentas pertama Warkop Prambors terjadi saat pesta perpisahan (prom nite) SMP 9 Jakarta di Hotel Indonesia (September 1976). Indro belum bergabung. Berapa honor yang mereka bawa pulang?

“Kalau tidak salah Rp4000. Habis buat makan sama-sama di Pecenongan. Jumlah honor yang kami terima pada tahun itu termasuk lumayan, lho. Soalnya naik bis kota ongkosnya masih sekitar Rp15,” kenang Dono dalam buku 30 Tahun Prambors: Tempat Anak Muda Mangkal (PT Radio Prambors, 2001).

Debut manggung pertama Indro bersama konco-konconya terjadi dalam acara SMP 1 Cikini, Jakarta Pusat. Sebelum pentas, Dono harus mojok dulu untuk menenangkan dirinya. Sementara Rudy menolak tampil karena demam panggung hebat hingga lutut bergetar.

Kesibukan personel menanggapi undangan manggung dan kemudian sebagai bintang film membuat Warkop kewalahan mengatur waktu. Praktis sejak 1980, kelompok ini tidak mengudara lagi di Prambors.

Beraksi di Panggung dan Dapur Rekaman

Tingkah pola Rudy, Nanu, Kasino, Dono, dan Indro lewat jokes reading-nya semakin dikenal luas. Berbanding lurus dengan nama Prambors sebagai stasiun radio pilihan anak muda Jakarta waktu itu. Ibaratnya mereka saling memberi keuntungan alias simbiosis mutualisme.

“Prambors itu media yang memperkenalkan saya dan juga sebaliknya. Dulu Prambors hanya dikenal lokal, menjadi terkenal di seluruh Indonesia. Karena tiap Warkop manggung ke daerah-daerah, simbol Prambors bergambar orang berambut gondrong kita pakai terus. Jadi saling menguntungkan. Prambors juga mengangkat nama Warkop lewat acara di TVRI,” kata Dono.

Tawaran manggung datang semakin deras. Bahkan tak jarang mereka mengisi hajatan hingga ke luar kota Jakarta. Prambors melalui label rekaman Pramaqua yang merupakan kongsi dengan seorang maniak musik bernama Johannes Soerjoko alias Ook mengajak Warkop rekaman kaset.

Hasilnya meluncur album rekaman lawak perdana bertajuk Warung Kopi Prambors (Cangkir Kopi) pada 1979. Alex Kumara dan Dannes Item menjadi penata suara. Sisi A kaset diambil dari pertunjukan Nanu, Dono, Kasino, dan Indro di Palembang. Sementara sisi B adalah hasil lawakan yang direkam dari Studio Gelora Seni, Jakarta.

Untuk rekaman album pertama tersebut, Warkop dibayar dengan sistem kontrak flat alias tanpa royalti senilai Rp10 juta. Sistem itu juga terus diterapkan saat Warkop beralih ke film.Akibatnya tentu saja mereka tidak bisa menagih royalti. “Mereka hanya dapat bonus saat film itu laris. Setelah itu tidak terima apa-apa lagi,” terang Hanna Sukmaningsih (40), putri tunggal Kasino.

Nilai kontrak Rp10 juta yang disodorkan Pramaqua terbilang tinggi. Kelompok rock tenar God Bless yang digawangi Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah, Teddy Sujaya, dan Yockie Suryo Prayogo “hanya” mendapat bayaran Rp5 juta untuk album perdananya pada 1976.

“Saya berani bayar mahal kelompok anak-anak radio ini karena mereka sudah membangun image selama lima tahun. Jadi bukan artis baru lagi. Produknya sudah masuk kategori signature, seperti juga kaset event Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors,” tulis Ook dalam buku Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main (bab “Kaset Warkop Prambors Pun Menerobos”, hal 74).

Naluri bisnis Ook terbukti. Album lawak perdana Warkop bergambar sampul cangkir kopi panas itu ludes 259 ribu keping. Jumlah tersebut adalah rekor penjualan album terbanyak Pramaqua kala itu, melebihi penjualan album LCLR 1977, soundtrack film Badai Pasti Berlalu (1977), dan LCLR 1978.

Alhasil Pramaqua kembali memperpanjang kontrak untuk satu album lagi. Kali ini nilainya meningkat jadi Rp25 juta. Album berjudul Warung Kopi Prambors (Warung Tenda) yang meluncur pada 1979 itu terjual 162.000 keping. Menurunnya angka penjualan tersebut menyudahi kerja sama Warkop dengan Pramaqua.

Lepas dari Pramaqua, Warkop tercatat merilis album-album selanjutnya dengan tujuh label rekaman berbeda. Album ketiga, Warung Kopi dan OM PSP, dirilis DD Record pada 1979. Seperti judulnya, Warkop dalam album ini berkolaborasi dengan kelompok Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks yang juga beranggotakan delapan mahasiswa UI.

Kala merilis album Mana Tahaaan… (Purnama Record, 1980), Warkop hanya tampil dengan formasi Dono, Kasino, Indro, minus Nanu (meski wajahnya menghiasi sampul kaset).

Selanjutnya adalah album Dokter Masuk Desa (1981) yang juga dirilis oleh Purnama Record. Pada kaset ini, untuk pertama kalinya Warkop Prambors menghadirkan naskah humor tematik seputar dokter yang melayani masyarakat desa. Mereka tidak lagi mengandalkan jokes reading seperti kebiasaan selama ini.

Album-album kaset mereka setelah itu adalah Gerhana Asmara (JAL Record, 1982) bersama Srimulat, Pingin Melek Hukum (Insan Record, 1983), Semua Bisa Diatur (JAL Record, 1984), Pokoknya Betul (JAL Record, 1984), Sama Juga Bohong (Sokha, 1986), Makin Tipis Makin Asyik (Union Artis, 1987), dan Kunyanyikan Judulku (Harpa, 1987).

Dalam dua album kaset yang disebutkan terakhir, nama Prambors yang biasa berada di belakang nama Warkop berganti jadi DKI alias Dono-Kasino-Indro. Pergantian tersebut terjadi karena Warkop tidak lagi menginduk pada pada Prambors, melainkan telah mendirikan manajemen sendiri.

Melepaskan nama Prambors juga menghindarkan mereka dari kewajiban membayar royalti penggunaan nama tersebut.

Kapanpun Lebaran, filmnya tetap Warkop

Sukses melalui kaset rekaman sudah diraih. Lompatan karier Warkop Prambors selanjutnya terjadi saat tampil dalam acara “Terminal Tempat Anak Muda Mangkal” arahan Mus Mualim di TVRI pada 1 Januari 1978. Para produser film semakin tergiur. Tawaran untuk pindah ke ranah audio visual mulai berdatangan.

Karena merasa sebagai orang baru dalam industri perfilman, Dono, Kasino, Indro, dan Nanu meminta masukan dari yang telah berpengalaman. Johannes Soerjoko atau Ook dan sineas Teguh Karya termasuk yang menyokong.

Ook bersama Johhny T. Tjondrokusumo mengenalkan kuartet Warkop dengan Jiwat K.K dari Bola Dunia Film. Sementara Teguh Karya yang biasa dipanggil Om Steve menyumbang saran. “Kalian kalau mau main film jangan sama gue. Karena gue ibaratnya pembuat es krim, bukan es doger. Kalian buat es doger saja, pasti laris dan disukai penonton. Percaya deh,” ujar Teguh yang wafat pada 2001 itu.

Saran tersebut ternyata sejalan dengan hasil riset kecil-kecilan yang dilakukan Warkop. Berdasarkan hasil temuan mereka, sebagian besar penonton film Indonesia kala itu adalah kalangan menengah ke bawah.

Berbekal demografi tersebut, disepakati bahwa bercanda otak ala Warkop dalam siaran radio tak bisa sepenuhnya diterapkan dalam film. Opsi yang diambil kemudian adalah humor slapstick ala film-film Charlie Chaplin yang lebih mudah dicerna.

Setelah melakukan pencarian, muncul nama Nawi Ismail yang dianggap satu visi. Sutradara beberapa film komedi Benyamin itu memang tanpa tedeng aling-aling mengatakan ogah membuat film berat.

“Buat apa bikin film yang bermutu (baca: berat, red.). Orang-orang datang ke gedung bioskop buat mencari hiburan. Yang penting mereka bisa tertawa, atau mendadak hot kalau melihat adegan syur. Kalau dibikin film bermutu, keluar dari gedung bioskop malah jadi mikir,” tegas Nawi dalam sebuah wawancaranya bersama majalah Vista.

Bersama Nawi meluncurlah film perdana bertajuk Mana Tahan (1979) produksi Bola Dunia Film yang mendapat sambutan meriah. Menurut data PT Peredaran Film Indonesia (Perfin) dilansir filmindonesia.or.id, film tersebut menjadi yang terlaris kedua di Jakarta dengan 400.816 penonton.

Pencapaiannya hanya kalah dengan pencapaian 488.865 penonton milik Kabut Sutra Ungu yang memasang Jenny Rachman dan Roy Marten sebagai bintangnya.Sekadar catatan, Jenny dan Roy saat itu jauh lebih populer dibanding Warkop yang masih berkategori pendatang baru.

Sayangnya Mana Tahan merupakan aksi perdana sekaligus terakhir Nanu dalam formasi Warkop di layar lebar.

Melonjaknya jumlah penonton debutfilm Warkop membuat tawaran bermain datang semakin deras. Gengsi Dong, Pintar-Pintar Bodoh, dan Ge…er (Gede Rasa) bahkan rilis bersamaan pada 1980. Semuanya lagi-lagi masuk dalam daftar film terlaris di Jakarta.

Pun demikian, Kasino yang selama ini bertindak sebagai otak strategi dagang Warkop tersadar untuk menahan diri. Harus hemat popularitas dengan selalu sering tampil. Orang bisa dengan cepat bosan.

“Kalau kita muncul terus, yang jenuh bukan hanya penonton. Kita juga jenuh. Jadi ritmenya kita jaga,” ungkap Indro seperti ditulis Eddy Suhardy dalam “Film Warkop: Segmen Sana Segmen Sini” di buku Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main (hal. 133).

Sejak saat itu, Warkop membatasi hanya akan bermain dua film setiap tahun. Waktu perilisannya pun mereka pilih menjelang Lebaran dan Natal/Tahun Baru. Kebiasaan tersebut diterapkan menyusul sukses Pintar-Pintar Bodoh (PT Parkit Film).

Total sepanjang karier mereka saat masih kompak berempat kemudian bertiga seiring ketiadaan Nanu, Warkop bermain dalam 34 film warkop. Semuanya menembus ratusan ribu penonton khusus di kawasan DKI Jakarta. Maju Kena Mundur Kena (1983) produksi Parkit Film adalah yang terlaris dengan 658.896 penonton.

“Film Warkop paling jeblok itu kalau enggak salah IQ Jongkok atau Setan Kredit.Tapi sejeblok-jebloknya film kami, penontonnya masih bisa menembus ratusan ribu,” kata Indro.

Karena laris, beberapa kali Piala Antemas yang diberikan kepada film terlaris berhasil mereka bawa pulang dalam acara Festival Film Indonesia (FFI). Pada 1993, Warkop DKI menerima Moedjimoen Award dari Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia di Yogyakarta.Dalam kurun 1987–1992 film-film Warkop dinyatakan sebagai film terlaris. Jumlah penontonnya mencapai 10–15 juta.

Warkop Angels yang mana tahan

Dari awalnya dikenal sebagai pelawak intelek, kemudian hanya menjual humor slapstick berbungkus pakaian minim para aktris yang terlibat, membuat sebagian kalangan menilai film-film Warkop tidak berkualitas lagi.

Kelompok yang terdiri dari gabungan mahasiswa UI dan Universitas Pancasila itu bukannya tidak berusaha mengubah stereotip tersebut. Buktinya saat mereka memilih Chaerul Umam (menjadi sutradara), Franki Raden (penata musik), dan Nano Riantiarno (penulis naskah) dalam film Sama Juga Bohong (1986).

Atau kala Manusia 6.000.000 Dollar diarahkan Ali Shahab dan Jodoh Boleh Diatur disutradarai Ami Prijono.“Itu kan berarti kita mencoba. Tapi yang mencapai angka 300.000 penonton ke atas rata-rata yang memakai sutradara Arizal dan Tjut Djalil. Nah, pemilik modal yang konsepnya bisnis, ya itu (yang dipakai),” terang Kasino.

Penggunaan rombongan cewek yang kerap mengenakan pakaian renang dalam film bukan murni kemauan Warkop, tapi kompromi dengan produser. Pertimbangan utama tentu saja aspek bisnis. Itu bisa ditengok dalam film Bisa Naik Bisa Turun produksi Soraya Intercine Film (1991).

Dalam sebuah dialog bersama Didin Boneng yang menjadi instruktur mereka saat mengikuti pelatihan satpam, Dono dan kawan-kawan memilih piknik ke pantai yang notabene dipenuhi cewek menggunakan pakaian renang yang serba terbuka, alih-alih melanjutkan pelatihan.

“Kalau adegan pantai batal, elu mau tanggung jawab kalau penonton marah?” kata Indro.“Iya juga ya. Kan di sini komersilnya,” jawab Dono.

Pada awal kemunculannya, Warkop Angels –julukan aktris dalam film-film Warkop– yang kerap jadi karakter love interest para personel sangat jauh dari kesan seksi. Lekukan tubuh perempuan semakin ditonjolkan saat Warkop bernaung bersama Soraya Intercine Film, terutama memasuki era 90-an.

Era menjelang mati suri perfilman nasional tersebut dalam hemat kritikus film Hikmat Darmawan merupakan periode “komedi nyaris non-cerita” dari Warkop. “Pesan sosial nyaris tak ada, plot hanya sekumpulan sketsa-sketsa, dan semakin banyak eksploitasi tubuh perempuan dan lelucon seks.”

Dalam beberapa adegan diperlihatkan Warkop Angels tanpa sungkan mengenakan pakaian minim seperti baju renang atau baju tidur yang kainnya tipis seolah transparan.

Menurut Kiki Fatmala dalam acara “Sudut Pandang”, sejak awal ia sudah diberitahu jika ingin bermain sebagai Warkop Angels, harus siap berbusana minim dalam beberapa adegan. Ia menyanggupi syarat tersebut karenapenggunaannya sesuai koridor. Misalnya adegan mengenakan baju renang berlangsung di pantai dan baju tidur dipakai saat beradegan di dalam kamar.Porsi mereka juga bukan sekadar pemanis, tapi berperan menciptakan konflik dalam cerita.

Alasan lain, bisa tampil dalam film Warkop DKI adalah kebanggaan. “Siapa coba yang enggak nonton Warkop. Rasanya itu impian semua artis perempuan pada masa itu,’’ tambah Kiki dilansir JawaPos.com (11/9/2016).

Dari sekian banyak Warkop Angels yang pernah tampil, Eva Arnaz adalah langganan. Mengawali kemunculannya dalam Pintar-Pintar Bodoh (1980), aktris kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, muncul lagi bersama Warkopdi Manusia 6.000.000 Dollar (1981), Maju Kena Mundur Kena(1983), Pokoknya Beres (1983), Tahu Diri Dong (1984), Atas Boleh Bawah Boleh (1986), Depan Bisa Belakang Bisa (1987), dan Sabar Dulu Dong (1989).

“Jauh hari sebelum main film dengan Warkop, saya sudah menggemari mereka. Saya termasuk orang yang mendengarkan lawakan mereka saat masih siaran di Radio Prambors. Itu sebabnya saya ingin banget main di film Warkop,” terang Eva dinukil dalam tulisan Eddy Suhardy di buku Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main.

Warkop Angel kedua terbanyak yang sering muncul adalah Sally Marcelina. Kemunculannya dapat disaksikan dalam Mana Bisa Tahan (1990), Sudah Pasti Tahan (1991), Bisa Naik Bisa Turun (1991), Masuk Kena Keluar Kena (1992), dan Pencet Sana Pencet Sini (1994).

Fortunella, aktris kelahiran Jakarta, 12 Oktober 1974, juga lima kali main dalam film Warkop. Dimulai dari Masuk Kena Keluar Kena (1992), Salah Masuk (1992), Bisa Naik Bisa Turun (1991), Sudah Pasti Tahan (1991), dan Lupa Aturan Main (1990).

Berikutnya adalah Lidya Kandou yang mewarnai film Maju Kena Mundur Kena (1983), Pokoknya Beres (1983), Tahu Diri Dong (1984), danKesempatan Dalam Kesempitan (1985).

Dari deretan Warkop Angels, mana yang jadi favorit? “Kalau dari kecerdasannya, sih, Ira Wibowo dan Karina Suwandi. Kalau dari sisi senang banget kerja sama dan lepas banget bercandanya itu Kiki Fatmala. Yang hubungannya saling hormat dan Jawa banget itu Diah Permatasari. Tapi, yang selalu saya ingat, ya Eva Arnaz,” jawab Indro.

Musik Parodi Warkop

“Tak selamanya mendung itu kelabu, nyatanya hari ini kulihat begitu ceria.” Demikian potongan lirik lagu “Kidung” ciptaan Chris Manusama. Oleh Warkop DKI, lagu yang terdapat pada album kompilasi Lomba Cipta Lagu Remaja 1978 dan dipopulerkan Pahama Group itu dirombak sedemikian rupa. Hasilnya adalah; “Tak selamanya Doris itu Callebout, nyatanya hari ini kulihat, Inem Pelayan Sexy.”

Doris Callebout adalah bintang yang saat itu sedang moncer di jagat perfilman nasional. Popularitasnya setara dengan Yati Octavia, Yenny Rachman, Robby Sugara, dan Roy Marten. Sementara Inem Pelayan Sexy merupakan drama komedi laris arahan Nya’ Abbas Akup. Saking larisnya, film tersebut dibuat hingga seri ketiga.

Masih banyak lagu lain yang pernah diacak-acak Warkop. Sebuah kebiasaan yang telah mereka praktikkan saat acara mapram di lingkungan kampus UI. Memasuki bilik studio siaran Prambors, kebiasaan tersebut dijadikan materi siaran.Agar makin klop, lagu pembuka setiap program “Warkop Prambors” juga sudah dipersiapkan.

Terpilih kemudian adalah sebuah lagu dangdut berjudul “Kopi Dangdut” dari kelompok Orkes Melayu Bangladesh pimpinan Utjok Surodipuro. Hingga sekarang, satu-satunya lagu dangdut yang pernah diputar Radio Prambors adalah lagu tersebut.

Ketika berpindah ke kaset rekaman, lagu tersebut berubah menjadi “Obrolan Warung Kopi”. Aransemen musiknya ditangani oleh Gatot Sudarto. Bagian penggubah lirik ditangani Gatot bersama Tris Sakeh dan Yudhie N.H.

Versi terbaru berisi yang sarat kritik sosial itu pertama hadir dalam kaset Pengen Melek Hukum (1983). Bersamaan dengan rilisnya film Maju Kena Mundur Kena (1983) dan Pokoknya Beres (1983), lagu tersebut juga mulai hadir.

Theme Song Film Warkop dari Pink Panther

Satu musik lainnya yang sangat identik dari Warkop adalah theme song yang mirip dalam film Pink Panther (1964). Agar terhindar dari tuntutan terkait hak cipta, musikus Rezky Ichwan, alumni Berklee College of Music, Boston, Amerika Serikat, menawarkan solusi.

“Gagasan menggunakan komposisi karya Henry Mancini itu datang dari Ram Soraya. Ketika diajak membuat ilustrasi musik film Warkop pada 1985, saya membuat perbedaan dalam struktur notasi atau melodi serta akornya, tapi mood-nya tetap sama. Jadi seperti sebuah karya yang mirip-mirip,” jelas Rezky dalam bab “Menelisik Usik Musik Warkop” yang ditulis mendiang Denny Sakrie di buku Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main.

Di luar itu, ada banyak lagu lain yang pernah didendangkan Warkop, di atas panggung, kaset rekaman, maupun dalam film. Sekilas terdengar asal-asalan karena bentuknya parodi. Tapi di balik itu, penggarapan aransemen musiknya ditangani oleh musikus jempolan.

Saat manggung misalnya. Selain diiringi Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (OM PSP) dan Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR) yang tak kalah kreatifnya memparodikan lagu, band pengiring mereka pernah diisi oleh Jerry Souissa (gitaris, dari kelompok Ariesta Birawa), Opop (drummer, ERO), Eddy Susilo (bassis, Clique Fantastique), serta Youngky dan Dodo Zakaria (keyboardist, Drakhma).

Daftar musisi yang pernah ikut membantu penggarapan musik Warkop lainnya, antara lain Abadi Soesman, Ian Antono, dan Yockie Suryo Prayogo (ketiganya personel God Bless). Pernah hadir pula Benny Likumahuwa, Gilang Ramadhan, Mates, Ekky Soekarno, Doddy Sukaman, Roedyanto, dan tentu saja Franki Raden yang dedengkot musik avant garde.

Warkop Masa Kini

Laiknya nasib kelompok lain, Warkop sejak era masih mengusung nama Prambors hingga DKI di belakangnya juga mengalami fase ditinggal pergi personel. Dua di antaranya memutuskan hengkang, sementara dua lainnya meninggal dunia.

Sosok pertama yang memisahkan diri adalah Rudy Badil pada penghujung era 70-an. Rudy yang tak kunjung bisa menguasai demam panggungnya memutuskan tak aktif lagi bersama Warkop.

Ia sadar diri tidak punya keberanian untuk bergaya dengan tingkah lucu, atau mimik kocak, serta harus menyanyi. Perhatiannya kadung tersita pada alam terbuka dan dunia penulisan. “Ngocol bersama Warkop di panggung, kagak mainlah,” terang Rudy yang kemudian menjadi wartawan harian Kompas sejak 1980.

Tidak lama setelah film perdana Mana Tahan melucur ke pasaran, Nanu juga memutuskan mundur. Alasannya kala itu karena ingin berkonsentrasi menyelesaikan kuliahnya yang telah lama terbengkalai. Izin diberikan. Tak dinyana, Nanu melenggang sendirian alias bersolo karier bermain dalam film Kisah Cinta Rojali dan Zuleha (1979).

Warkop jelas merasa kecolongan.“Mestinya waktu itu Nanu sepakat menyelesaikan kuliahnya. Dono dan Kasino ikut membantu. Cuma tahu-tahu Nanu main film. Bandel bener deh,” kenang Indro. Seperti diceritakan Budiarto Shambazy, keputusan pecah kongsi dengan ketiga rekannya itu disesali Nanu.

Lepas dari Warkop, Nanu mengisi hari-hari dengan memotret apa saja sembari bolak balik menemui dokter karena sakit saringan ginjal. Penyakit itu pula yang mengakhiri hidupnya pada 22 Maret 1983 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, sekitar pukul 13.00 WIB.

Kepergian Nanu Warkop, disusul oleh Kasino Warkop (1997) dan Dono Warkop (2001). Tertinggal Indro seorang diri yang mengibarkan panji Warkop DKI. Usaha yang bakal terus dilakukannya hingga akhir hayat. Pasalnya, Warkop bagi Indro bukan sekadar grup lawak, tapi sebuah keluarga.

“Berbeda dengan kelompok lain, Warkop DKI hanya berpisah karena para personelnya meninggal dunia,” kata Hanna yang ditunjuk sebagai ketua Lembaga Warkop DKI di kediamannya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (27/9).

Ditinggal pergi Kasino dan Dono yang telah dianggapnya sebagai saudara terang saja menyisakan pilu. “Seperti kehilangan hidup. Rasa percaya diri saya sempat hilang saat itu. Laiknya tertinggal di hutan belantara yang gelap seorang diri tanpa ada orang yang menemani,” Indro Warkop mengenang.

Meski sekarang berjalan sendirian mengibarkan panji Warkop DKI, Indro mengakui bahwa di dalam dirinya selalu ada kedua rekannya itu. “Mas Kasino itu badan saya. Sementara Mas Dono adalah otak saya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *